Selasa, 06 Maret 2012

Apresiasi Singkat Puisi Impianku

Esai: Muhammad Rain

IMPIANKU 
Laila Nur (Enung Nur Laila)

wahai senja
setiap kutemui engkau di bis
di keramaian kota
di sepi angin pinggiran
kuselalu tenggelam dalam sunyi matamu
dalam keriput jemarimu
tergopoh tersikut angkuhnya riak jaman
kuhanya bisa manggut dengan senyuman
ingin kusenyumi setiap waktu
seperti halnya pada senja-senja di rumahku
senja-senja di pundakku yang mengelilingi
pelipur laraku
penyirna malas-malasku

ingin suatu waktu
terhimpun dalam kandaga
tertera dalam ramah para pembagi rasa
yang di atasnya mengalir tetesMu
mimpiku Kau tersenyum di hari kesulitanku di ujung waktu.

Selamat Laila Nur, dalam puisi kali ini pembaca mendapat suatu renungan yang lepas dan sekaligus lengkap dan memperoleh kepuasaan nilai rasa saat mereka membaca, paling tidak dari seorang pembaca puisi seperti Muhrain. Selamat juga bila dalam menulis puisi kali ini sudah mulai terlepas dari percobaan-percobaan maupun pengaruh dari tulisan puisi yang kira-kira mirip dan mendekati tipografi penulisan karya puisi semacam ini. Puisi refleksi dan memahamkan kepada pembaca apa yang dirasakan sang penulis dalam dunia kreatifnya.

Dilihat sepintas hanya ada beberapa kesalahan dan mungkin bukanlah suatu kesulitan untuk diperbaiki (bandingkan puisi asli pada catatan dengan puisi dalam kolom komentar apresiatif ini). Kesalahan itu terutama terletak pada pemakaian klitika (kata ganti "ku") yang secara tatabahasa termasuk dalam jenis morfem terikat. Sehingga penulisan yang benar dari kata ganti "ku" tersebut harus lekat serangkai dengan kata yang dimasukinya, boleh di awal kata maupun di akhir kata, namun secara umum lekat serangkai di akhir kata. Meskipun dalam konsep sastra puisi keindahan perangkaian kata-kata bisa saja tidak mengacuhkan/mempedulikan konsensus yang mengatur kaku penulisan bahasa Indonesia, namun dalam puisi konvensional seperti ini, secara sadar para penulis harus mengedepankan bahasa standar dan baku, beda halnya jika ranah yang dipilih itu adalah ranah puisi kontemporer, karena jalur jenis ini membebaskan lebih luas pendirian sang penulis puisi seperti halnya puisi mbeling, puisi konkret dan puisi mantra.

Hasil akhir yang dapat Muhrain sampaikan adalah beberapa kekuatan yang telah dimiliki Laila Nur dalam puisinya kali ini antaranya:

*Pertimbangan repetisi kata yang situasional, bermakna dan memberi pengaruh positif terhadap padatnya nada dan suasana puisi sehingga pembaca mampu merasakan secara jernih perasaan sang penulis.

*Pertimbangan tema, sebab tema yang dipilih sangat dekat dengan keseharian pembaca sehingga pembaca tidak akan mengalami kesulitan besar bila hendak menikmati lebih apresiatif hasil sastra yang telah diciptakan oleh sang penulis.

*Pertimbangan amanat yang secara gamblang dapat sesegera mungkin ditangkap pembaca sebab sebagai nilai sastra yang mengedepankan keindahan, puisi juga mengedepankan kebermaknaan dari sisi kebenaran yang diusungnya sehingga memberikan faedah dalam berbagai kesempatan pengkajian puisi yang dimaksudkan.

*Pertimbangan rima dan irama dari puisi yang tergolong cukup hati-hati dalam penentuan kadar karangan sehingga diksi yang dipilihkan masih dapat melukiskan irama jiwa dan kompilasi bunyi dalam setiap perjalanan bait dari puisi.

Demikianlah berupa apresiasi singkat padat dan semoga cukup jelas buat pembaca komentar yang sesungguhnya amat sederhana ini tanpa mengambil banyak waktu dalam upaya penjabaran hasil seni kreatif sastra puisi di dunia maya ini. Harapan kepada Laila Nur, teruslah menulis dan bebaskan daya kreasimu dengan merujuk apa yang sudah diperoleh sebagai modal dan melangkah ke tangga berikutnya dalam menghasilkan karya makin bermakna lagi di kemudian hari. Selamat berkarya.

Salam Apresiatif dari Acehmu
Muhammad Rain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar